Wartakomunitas.com | Jakarta - Novelis Asma Nadia masih menunggu itikad baik produser Air Mata di Ujung Sajadah, Ronny Irawan untuk mengklarifikasi bahwa film tersebut bukan hasil adaptasi buku Cinta di Ujung Sajadah, buatannya.

“Kami ingin klarifikasi dari pembuat film. Kami menduga ada indikasi pelanggaran atas hak kekayaan intelektual klien kami,” ujar pengacara Asma Nadia, Ana Sofa Yuking dalam jumpa pers di kawasan Pondok Indah, Jakarta.

Asma Nadia berharap produser film Air Mata di Ujung Sajadah mau duduk bersama membicarakan masalah tersebut. Mengingat dari hasil pembahasan terdahulu, Ronny Irawan sendiri membenarkan bahwa ide penamaan film muncul secara spontan tanpa ada pembicaraan dengan Nadia.

“Kalau mereka sadar ada kesamaan substansial dengan klien kami, mari kita duduk bersama,” kata Ana Sofa Yuking.

Bila memang tidak ada itikad baik, Asma Nadia bakal menempuh jalur hukum. Rencana gugatan terhadap produser Air Mata di Ujung Sajadah sudah disiapkan.

“Kalau nanti deadlock, ya setiap masyarakat punya ruang dan medianya melalui pengadilan,” ucap Ana Sofa Yuking.

Sebelumnya, Asma Nadia mengutarakan keresahan atas munculnya film Air Mata di Ujung Sajadah. Ia keberatan dengan pemilihan judul film besutan Beehave Pictures dan Multi Buana Kreasindo Production, karena berpotensi menekan peluang kisah Cinta di Ujung Sajadah diangkat ke layar lebar.

Sempat menghubungi produser film Air Mata di Ujung Sajadah gara-gara hal itu, Asma Nadia mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Ia pun mengirim surat teguran atau somasi kepada produser Ronny Irawan selaku produser untuk menyatakan bahwa film tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan novel Cinta di Ujung Sajadah.

Sebagai informasi, Air Mata di Ujung Sajadah merupakan film drama keluarga yang tayang perdana pada 7 September 2023. Dibintangi Titi Kamal dan Fedi Nuril, film yang disutradarai Key Mangunsong itu berkisah tentang konflik batin dua pasangan suami istri yang memperebutkan satu anak yang sama.

Sementara novel Cinta di Ujung Sajadah karangan Asma Nadia sudah diterbitkan sejak 2008 oleh Lingkar Pena Publishing. Secara garis besar, Nadia dalam bukunya mengangkat cerita tentang keresahan anak perempuan yang merindukan sang ibu kandung setelah terpaksa tinggal bersama ayah dan istri barunya.