Mulai 2 Januari 2024, bantuan pangan beras kembali digulirkan Pemerintah untuk 22 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Jumlah penerima bantuan pangan beras tahun ini mengala­mi peningkatan sekitar 8 persen dibandingkan jumlah penerima tahun sebelumnya yang hanya 21,3 juta KPM. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi memastikan stok beras nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Pemerin­tah menyalurkan bantuan beras kepada 22 juta KPM periode Januari hingga Maret 2024.

“Bahkan hingga April 2024 yang merupakan peak season karena ada Hari Raya Idul Fitri, kami pastikan stok beras na­sional juga cukup,” kata Arief dalam keterangan resmi Bapanas di Jakarta, Rabu (3/1/2024).

Berdasarkan data Perum Bu­log, stok beras saat ini tercatat 1,6 juta ton. Terdiri dari stok yang ada 1,15 juta ton, ditambah dengan beras impor yang dalam perjalanan. Stok ini cukup, meski ada momen Natal 2023 dan Tahun Baru 2024, serta Ra­madan dan Lebaran 2024. Indonesia juga mendapatkan tawaran untuk mengimpor beras dari Thailand sebanyak 2 juta ton. Terdiri dari skema antar Pemerintah dan antarbisnis, masing-masing 1 juta ton.

Selain itu, Bulog juga menda­patkan tawaran untuk mengim­por beras dari India sebanyak 1 juta ton, serta tawaran impor dari Pakistan, Vietnam dan negara lain sebanyak 1 juta ton. Jadi, total tawaran impor pada 2024 sebesar 4 juta ton. Menurut Arief, pada bantuan pangan beras 2024 terdapat pe­rubahan database penerima bantuan.

Pada 2024, Bapanas dan Pe­rum Bulog bersama Kemen­terian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggunakan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE).

Validitas data baru ini cu­kup kuat, sehingga 22 juta KPM penerima bantuan pangan beras tahun ini benar-benar kelompok masyarakat yang sangat perlu dibantu. Kita yakin tahun ini bisa lebih tepat sasaran,” jelas Arief.

Bantuan pangan beras, lanjut Arief, merupakan salah satu program Pemerintah untuk ban­talan ekonomi masyarakat dalam menghadapi dampak fenomena cuaca El Nino. Dengan beras 10 kilogram (kg) per bulan, akan membantu kebutuhan konsumsi bulanan bagi masyarakat berpendapatan rendah selama tiga bulan. Dia menjelaskan, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Suse­nas) yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2023 menunjukkan, konsumsi beras per kapita dalam sebulan mengalami peningkatan. Dari 6,4 kg tahun 2019 menjadi 6,6 kg tahun 2023.

Bantuan pangan beras ini juga turut andil menurunkan daerah rentan rawan pangan tahun 2024. Tentunya beriringan dengan upaya lain yang dilakukan Pemerintah, sehingga secara sinergis dapat membuahkan hasil yang positif dalam menjaga perekonomian. Pada 2023, Bapanas telah menyusun FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas) atau Peta Kerentanan dan Ketahanan Pangan. Hasilnya cukup menggembirakan. Pada 2023 jumlah daerah rentan rawan pangan menurun menjadi 68 kabupaten/kota. Sebelumnya, tahun 2022 terdapat 74 kabupaten/kota yang mengalami rentan rawan pangan.

Ini artinya, situasi ketahanan pangan Indonesia tahun 2023 meningkat dibandingkan tahun 2022,” ujar Arief.
Sebelumnya, Jokowi menga­takan, jika Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024 cukup, program bantuan pangan beras akan di­lanjutkan pada April, Mei dan Juni.