Pancasila adalah dasar negara, falsafat suatu bangsa. Diksi itu sering kali kita dengar ketika membicarakan Pancasila, padahal substansi dari pancasila merupkan nilai-nilai yang digali dari kebiasaan masyarat indonsia yang seharusnya kita sebagai anak bangsa merealisasikan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Terlebih lagi Pancasila adalah penentu arah setiap kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah, tetapi nyatanya banyak kebijakan yang dikeluarkan itu jauh dari nilai-nilai pancasila. Sebagai anak bangsa kita perlu menjadi garda terdepan untuk mengamalkan sekaligus mensosialisasikan nilai-nilai pancasila di tengah-tengah kebimbangan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perlu di ingat kembali, para founder faders kita terutama bung karno dalam pidatonya 1 juni dia menegaskan bahwa Pancasila merupakan Alat pemersatu bangsa yang efektif, pancasila mampu menyatukan setiap perbedaan di segala aspek, aspek sosial-ekonomi & politik-budaya. Pancasila juga sifatnya fleksibel tidak baku dan selalu menerima tantangan jaman. Perlu di ketahui bersama, pancasila bukan hanya sekedar menghafal 5 sila yang terkandung didalamnya tetapi ada eseni nilai-nilai yang perlu di amalkan dalam segala bentuk tindak tanduk hidup berbangsa dan bernengara.

Sebagai anak bangsa perlu kita menyadiri tantangan yang kita hadapi sekarang adalah tentang matinya pancasila didalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kurangnya diskursus tentang pancasila, minimnya literatur mengenai pancasila, dan tidak adanya kesadaran kita untuk mensosialisasikan Pancasila. Setidaknya, ada harapan Pancasila akan lebih disosialisasikan. Bagaimana bentuknya kita belum tahu. Perlu di tekankan, tidak boleh bersifat “indoktrinasi”, agar pancasila tidak menjadi alat kekuasaan. Mungkin yang perlu kita sepakati bersama, diperlukan semacam peta jalan “the road map” yang selama ini terlupakan, sehingga Pancasila hanya bersifaat “abstrak”.

Pancasila adalah falsafah, sekaligus sumber hukum segala kebijakan yang menjadi rujukan penyelenggaraan negara. Perlu kita menyadari, disinilah kelemahan kita, bahwa ketika diranah operasional, meskipun kita mengklaim Pancasilais sekalipun, kita bisa berbeda dan bahkan berlawanan. Didalam forum akademis pun kita sering menyaksikan banyak bentuk intelektual yg menggaungkan dirinya paling pancasilais sehingga dengan mudahnya dia menjastifikasi orang yg berbeda pandangan dengan pancasila itu adalah “Anti Pancasila”. Apakah itu Pancasilais? Hehe.                                            Tidak saja terkait yang abstract, tetapi juga yang nyata dan kasat mata. Misalnya didalam mengamalkan sila pertama ketuhanan Yang maha Esa. Bagaimana kita menyikapi kerukunan antarumat beragama, hubungan agama dan negara, dan aliran keagamaan yang dianggap menyimpang. Bagaimana mewujudkan sila kelima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia” ketika orang masih meributkan “orang miskin dilarang sakit”.

Sampai disini kita mungkin bisa merenung, sejauh apa kita telah berjalan diatas kaidah-kaidah yang mestinya merupakan penjabaran Pancasila didalam berbangsa dan bernegara. Kerisauan melihat semakin merebaknya kekerasan, melunturnya jati diri bangsa, semakin dituntutnya perlunya pendidikan karakter dan budi pekerti, dan “cueknya” kita sebagai anak-anak muda sekarang pada Pancasila. Sebagai harapan bangsa, kita kaum pemuda harus bangun dari tidur panjang kita selama ini, yang telah meninggalkan cita-cita para pendiri bangsa untuk tetap mengamalkan dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila didalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan Pancasila.

Renungan ini ingin mengajak kepada seluruh masyarakat indonesia, kepada kaum pemuda pemudi yang menjadi instrumen perubahan, untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita pendiri bangsa, tidak hanya dalam tataran “makro” tetapi juga menyepakati tataran “mikro”, operasional, the road map, agar kita semakin mendekati untuk apa Pancasila ini hadir dan mendekati tujuan buat apa negara ini didirikan.
URGENSI DAN TANTANGAN PANCASILA 
Pancasila adalah dasar negara, falsafat suatu bangsa. Diksi itu sering kali kita dengar ketika membicarakan Pancasila, padahal substansi dari pancasila merupkan nilai-nilai yang digali dari kebiasaan masyarat indonsia yang seharusnya kita sebagai anak bangsa merealisasikan nilai-nilai tersebut kedalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih lagi Pancasila adalah penentu arah setiap kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah, tetapi nyatanya banyak kebijakan yang dikeluarkan itu jauh dari nilai-nilai pancasila. Sebagai anak bangsa kita perlu menjadi garda terdepan untuk mengamalkan sekaligus mensosialisasikan nilai-nilai pancasila di tengah-tengah kebimbangan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Perlu di ingat kembali, para founder faders kita terutama bung karno dalam pidatonya 1 juni dia menegaskan bahwa Pancasila merupakan Alat pemersatu bangsa yang efektif, pancasila mampu menyatukan setiap perbedaan di segala aspek, aspek sosial-ekonomi & politik-budaya. Pancasila juga sifatnya fleksibel tidak baku dan selalu menerima tantangan jaman. Perlu di ketahui bersama, pancasila bukan hanya sekedar menghafal 5 sila yang terkandung didalamnya tetapi ada eseni nilai-nilai yang perlu di amalkan dalam segala bentuk tindak tanduk hidup berbangsa dan bernengara
Sebagai anak bangsa perlu kita menyadiri tantangan yang kita hadapi sekarang adalah tentang matinya pancasila didalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kurangnya diskursus tentang pancasila, minimnya literatur mengenai pancasila, dan tidak adanya kesadaran kita untuk mensosialisasikan Pancasila. Setidaknya, ada harapan Pancasila akan lebih disosialisasikan. Bagaimana bentuknya kita belum tahu. Perlu di tekankan, tidak boleh bersifat “indoktrinasi”, agar pancasila tidak menjadi alat kekuasaan. Mungkin yang perlu kita sepakati bersama, diperlukan semacam peta jalan “the road map” yang selama ini terlupakan, sehingga Pancasila hanya bersifaat “abstrak”.
Pancasila adalah falsafah, sekaligus sumber hukum segala kebijakan yang menjadi rujukan penyelenggaraan negara. Perlu kita menyadari, disinilah kelemahan kita, bahwa ketika diranah operasional, meskipun kita mengklaim Pancasilais sekalipun, kita bisa berbeda dan bahkan berlawanan. Didalam forum akademis pun kita sering menyaksikan banyak bentuk intelektual yg menggaungkan dirinya paling pancasilais sehingga dengan mudahnya dia menjastifikasi orang yg berbeda pandangan dengan pancasila itu adalah “Anti Pancasila”. Apakah itu Pancasilais? Hehe.                                            Tidak saja terkait yang abstract, tetapi juga yang nyata dan kasat mata. Misalnya didalam mengamalkan sila pertama ketuhanan Yang maha Esa. Bagaimana kita menyikapi kerukunan antarumat beragama, hubungan agama dan negara, dan aliran keagamaan yang dianggap menyimpang. Bagaimana mewujudkan sila kelima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia” ketika orang masih meributkan “orang miskin dilarang sakit”.
Sampai disini kita mungkin bisa merenung, sejauh apa kita telah berjalan diatas kaidah-kaidah yang mestinya merupakan penjabaran Pancasila didalam berbangsa dan bernegara. Kerisauan melihat semakin merebaknya kekerasan, melunturnya jati diri bangsa, semakin dituntutnya perlunya pendidikan karakter dan budi pekerti, dan “cueknya” kita sebagai anak-anak muda sekarang pada Pancasila. Sebagai harapan bangsa, kita kaum pemuda harus bangun dari tidur panjang kita selama ini, yang telah meninggalkan cita-cita para pendiri bangsa untuk tetap mengamalkan dan mensosialisasikan nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila didalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan Pancasila.

Renungan ini ingin mengajak kepada seluruh masyarakat indonesia, kepada kaum pemuda pemudi yang menjadi instrumen perubahan, untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita pendiri bangsa, tidak hanya dalam tataran “makro” tetapi juga menyepakati tataran “mikro”, operasional, the road map, agar kita semakin mendekati untuk apa Pancasila ini hadir dan mendekati tujuan buat apa negara ini didirikan.