Perang Antara Iran Dan Israel Sebabkan Ketidakstabilan Ekonomi Global, Akibatkan Penguatan Dolar Dan Lonjakan Harga Minyak

Perang Antara Iran Dan Israel Sebabkan Ketidakstabilan Ekonomi Global, Akibatkan Penguatan Dolar Dan Lonjakan Harga Minyak

Smallest Font
Largest Font

Wartakomunitas.com | Internasional - Serangan Iran ke Israel tak hanya membuat ketar-ketir negara-negara Eropa dan Timur Tengah, tapi Indonesia juga ikut cemas. Soalnya, dampak dari perang dua negara yang punya kekuatan senjata super canggih itu, merembet ke urusan ekonomi dunia.

Serangan Iran ke Israel terjadi pada Sabtu (13/4/2024) malam. Iran mengirimkan ratusan drone bunuh diri dan puluhan misil ke Israel. Serangan ini merupakan balasan terhadap Israel yang sebelumnya mengebom konsulat Iran di Damaskus, Suriah, yang menewaskan dua jenderalnya.

Serangan Iran ini membuat kondisi Timur Tengah makin memanas. Sebelum serangan Iran, kondisi Timur Tengah sudah panas akibat konflik Israel dengan Hamas di Gaza. Ketegangan ini membuat harga minyak bergerak naik dan membuat rupiah babak belur ke Rp 16 ribu.

Melihat kondisi ini, Presiden Jokowi pun langsung menggelar Rapat Terbatas (Ratas) di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/4/2024) pagi. Presiden didampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Menteri yang hadir di Ratas tersebut di antaranya Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menko Maritim dan Invetasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Wamenkeu Suahasil Nazara dan Gubenur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Usai rapat, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, memberikan keterangan pers. Menurut dia, perlu deeskalasi (meredakan ketegangan) dan menjaga kestabilan regional untuk mengurangi dampak ekonomi global.

“Dari sisi perekonomian, tentu kita melihat terjadi lonjakan harga minyak akibat serangan Israel ke Kedutaan Iran di Damaskus dan juga terhadap retaliasi yang dilakukan oleh Iran,” beber Airlangga. 

Menurut dia, dari segi ekonomi, Laut Merah dan Selat Hormuz itu menjadi penting.

“Selat Hormuz itu dilewati 33 ribu kapal minyak dan Laut Merah itu dilewati sekitar 27 ribu dan peningkatan freight cost itu menjadi salah satu hal yang harus dimitigasi," tambah Ketua Umum Partai Golkar itu. 

Meski menghadapi tantangan geopolitik, Airlangga memastikan, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan yang solid di angka 5 persen dengan inflasi yang terkontrol di rentang 2,5 persen, plus minus 1 persen.

"Neraca perdagangan kita masih surplus dan cadangan devisa kita masih kuat di angka 136 miliar dolar AS," ungkapnya. 

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan, pasar keuangan global mengalami ketidakpastian dengan indeks dolar mengalami penguatan. Sementara, nilai tukar dan indeks harga saham global menunjukkan pelemahan. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih aman dibanding negara lain.

“Tentu kita perlu melakukan berbagai kebijakan, antara lain bauran fiskal dan moneter, menjaga stabilitas nilai tukar, menjaga APBN, dan memonitor kenaikan logistik dan kenaikan harga minyak,” beber Airlangga.

Dalam menghadapi gejolak ekonomi global, Pemerintah tetap fokus pada kebijakan yang mendukung sektor riil dan menstabilkan nilai tukar. Tujuannya untuk mengurangi dampak terhadap impor. Sembari juga mencatat manfaat bagi eksportir yang menerima lebih banyak devisa.

Senada dikatakan Menteri ESDM, Arifin Tasrif. Menurutnya, jika konflik Iran dan Israel berkepanjangan, kawasan di Timur Tengah akan memanas. Hal tersebut bisa mengganggu kargo-kargo yang berada di Terusan Suez, Selat Hormuz. Termasuk pengiriman minyak dunia yang diimpor dari Timur Tengah ke Indonesia. 

"Kalau itu terganggu, pasti suplai terganggu, ini yang bisa menyebabkan kekurangan produksi, biaya logistik naik, minyak naik," kata Arifin.

Saat ini, Pemerintah masih memantau keadaan. Ia berharap eskalasi Iran dan Israel berhenti, dan tidak berdampak pada kenaikan harga minyak dunia. Jika harga minyak naik, subsidi BBM akan membengkak.

Sementara, Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, memanasnya Iran-Israel dan pelemahan rupiah akan mempengaruhi kondisi industri manufaktur.

“Kita harus cermati, kita analisa, kemudian juga kita bisa mengambil langkah-langkah yang tepat agar supaya manufaktur kita tidak berdampak lebih dalam lagi terhadap pelemahan rupiah dan juga terhadap eskalasi hubungan memanas antara Iran dan Israel,” ujarnya saat acara halal bihalal di Kantor Kementerian Perindustrian, Selasa (16/4/2024).

Menurut dia, jika Iran dan Israel sampai perang terbuka, logistik akan terganggu. “Kita harapkan baik Iran, Israel menahan diri lah untuk kepentingan yang lebih besar, oke,” ujarnya.

Agus mengingatkan, perang tidak akan pernah membawa manfaat bagi industri manufaktur.

“Cost of production-nya pasti naik. Market-nya juga pasti terganggu. Jadi kita berharap tidak akan terjadi eskalasi,” katanya.

Sedangkan, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memastikan, pihaknya melakukan intervensi pasar agar nilai tukar rupiah tetap terjaga. Perry mengatakan, gejolak nilai tukar rupiah tak lepas dari situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

"Kami akan memastikan nilai tukar rupiah akan terjaga. Kami lakukan intervensi baik melalui spot maupun non delivery forward (NFD)," ujar Perry.

Menlu Retno Marsudi mengatakan, Pemerintah terus melakukan upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan atau deeskalasi situasi geopolitik di Timur Tengah.

“Pesan Bapak Presiden tadi dua, yaitu tolong terus lakukan upaya diplomatik agar pihak-pihak terkait menahan diri dan dapat dihindari terjadinya eskalasi, karena eskalasi tidak akan membawa manfaat bagi siapapun,” ujar Retno.

Retno mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir Indonesia telah melakukan komunikasi intensif dengan sejumlah pihak, mulai dari Pemerintah Iran, Saudi Arabia, Yordania, Mesir, Persatuan Emirat Arab, Uni Eropa, Jerman, Belanda, hingga Amerika Serikat untuk mendorong seluruh pihak menahan diri dan mencegah eskalasi. 

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow