Wartakomunitas.com | Garut - Sebuah mobil jenis campervan berwarna merah muda, mungkin satu-satunya hal yang ditunggu oleh janda dan dhuafa di kawasan perkotaan Garut setiap harinya. Mobil ini, mengangkut para 'malaikat' tanpa sayap yang kerap menolong mereka dari kesulitan dan perut yang lapar.
Campervan merah muda yang dimaksud, adalah mobil operasional milik Komunitas Penolong Janda dan Dhuafa (Panda) Garut. Sesuai dengan namanya, mereka yang ada di dalam komunitas ini, adalah orang-orang yang setiap harinya bergerak di bidang sosial.

Panda jadi idola para dhuafa dan janda. Bukan tanpa alasan, karena komunitas ini lah yang setiap hari konsen untuk memperhatikan keadaan para janda tua serta dhuafa, khususnya di kawasan perkotaan Garut.

Lia Ismi Farissa, adalah orang di balik semuanya. Perempuan asli Garut ini yang pertama kali mendirikan Panda. Secara legal, Panda diketahui berdiri tanggal 17 November 2017 silam. Misi yang diembannya, adalah menghimpun warga yang ingin menolong dan mentransformasikan nilai-nilai kebaikan.

"Awalnya kita bergerak dengan berbagi beberapa bungkus nasi, yang dibagikan kepada pejuang keluarga di jalan. Saat awal jumlahnya hanya 5 bungkus nasi yang dibagikan," ungkap Lia kepada detikJabar belum lama ini.

Janda dan dhuafa, yang menjadi sasaran. Karena bagi mereka, dua kelompok ini, yang tepat untuk menerima bantuan yang dihimpun dari masyarakat melalui media sosial. Yang tergolong dhuafa dalam hal ini, adalah para masyarakat miskin, difabel, lansia, buruh kasar, hingga korban bencana.

Lia mengatakan, Panda setiap hari bergerak menolong janda dan dhuafa. Mereka membagikan makanan, hingga menelusuri informasi yang masuk perihal janda dan dhuafa yang sangat memerlukan bantuan. Sering kali juga, Panda menolong janda hingga ke pelosok daerah.

"Karena harapan kami ingin terus terlibat aktif, dalam menebar manfaat dan kebaikan untuk masyarakat," katanya.

Panda, kata Lia, tak hanya memberi pada mereka, yang membutuhkan. Panda juga, memberikan edukasi, dan merubah mindset para penerima bantuan tersebut.

"Kami lakukan pemberdayaan. Sekarang banyak juga janda yang kemudian punya pekerjaan sendiri. Yang tadinya mustahik, penerima manfaat, menjadi muzakki atau pemberi, penyalur bantuan," ungkap Lia.

Lia tidak memungkiri, jika terkadang perasaan jenuh dan capek sering menghampiri dia dan kawan-kawannya yang bergerak di Panda. Namun, mereka tersadar untuk terus membantu, karena selalu jadi andalan bagi para janda dan dhuafa.

Setelah 6 tahun berdiri, Panda kini punya 30 relawan yang setiap hari turun tangan membantu janda dan dhuafa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, seperti ibu rumah tangga, hingga dosen dan mahasiswa.

"Harapannya ingin terus terlibat aktif, terus menebar manfaat dalam kegiatan kemanusiaan dan memfasilitasi masyarakat agar mandiri hingga terbentuknya masyarakat yang madani," pungkas Lia.